Ternyata Ridwan Kamil Lebih Sreg dengan Bima Arya

108
Ternyata Ridwan Kamil Lebih Sreg dengan Bima Arya

Bakal calon gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengaku paling sreg jika dipasangkan dengan Bima Arya. Ridwan Kamil kini menjabat Wali Kota Bandung, Bima Arya menjabat Wali Kota Bogor. Lebih dulu ia menjelaskan bahwa yang jelas ia tidak merasa cocok disandingkan dengan Deddy Mizwar ataupun Abdullah Gymnastiar di Pilgub Jabar 2018.

“Saya kan nggak ada masalah kalau bergabung dengan pasangan manapun. Ada dua tipe. Tipe a itu siapa saja, melengkapi hasil surveinya. Tapi tidak melompat. Atau, kelompok b yang melompat ada Deddy Mizwar dan Aa Gym, tapi kan belum tentu Demiz kan dia mau sendiri berarti tidak bisa. Aa Gym juga maunya independen, jadi tidak bisa,” ucap Ridwan Kamil di Pendopo Kota Bandung, Senin 14 Agustus 2017.

Jadi, ia pun konsisten melirik pasangan di kelompok nama lain yang ada di survei. Sebut saja Bima Arya, Asep Maoshul, dan Desy Ratnasari. “Kang Bima kan dia kepala daerah, jadi udah paling nyambung dibanding yang lain. Udah kenal sering ketemu di acara seremoni kedinasan,” kata dia.

Pada dasarnya, ia tidak menolak siapapun karena posisi pasangan itu ditentukan oleh koalisi. Termasuk jika Hanura yang bergabung dengan Nasdem untuk mendukungnya memilihkan sosok pendampingnya. Namun, perlu diingat bahwa poin koalisi Hanura dan Nasdem masih membutuhkan suara partai politik lain untuk maju di Pilgub Jabar.

“Kalau Hanura bisa meyakinkan PPP atau PKB bahwa kader Hanura-nya yang jadi. Dan mereka tidak keberatan kan gak masalah. Masalahnya kan Hanura gabung dengan Nasdem kan baru 8 jadi belum genap,” ujar dia.

Menanggapi PDI Perjuangan dan Golkar yang semakin harmonis tanpa mendukungnya, Ridwan mengaku tidak dibuat resah. “Jadi proses didukung tidak didukung dalam politik iti biasa sebagai objek dari politiknya kita tidak pernah menutup diri berkomunikasi ke semua partai,” katanya.

Setiap partai menurut dia punya kalkulasi. Pertama, apakah bisa berkoalisi sendiri. Kedua, kalau berkoalisi koalisi dengan siapa. Ketiga, partai mendahulukan kadernya kalau tidak bisa nanti konsekuensinya seperti apa.

“Kalau PDIP dan Golkar ternyata seperti yang dipersepsikan ya tidak ada masalah. Dicari saja partai lain yang sepaham komunikasinya baik visinya juga sama,” katanya.

Ridwan Kamil juga mengaku ditolak parpol untuk pencalonan bukan pertama kali dia rasakan. “Saya tahu begini itu karena pernah terjadi di 2013 ditolak partai A, B, C, dan D. Termasuk Gerindra, PKS yang punya calon sendiri, tapi karena sebuah takdir dan proses tiba-tiba kan begitu ya,” tuturnya.

Sumber