Prajurit Pusdikter Diganjar Penghargaan Karena Berhasil Lumpuhkan Komplotan Begal

93
Prajurit Pusdikter Diganjar Penghargaan Karena Berhasil Lumpuhkan Komplotan Begal

Berkat aksi heroik dalam menangkap dan mengamankan kelompok begal, Kopda M Ramdhan Hidayat dan Praka Hermanto diganjar dengan penghargaan dan uang pembinaan. Dua prajurit TNI Angkatan Darat yang bertugas di Pusat Pendidikan Teritorial (Pusdikter) itu berhasil melumpuhkan empat pelaku pencurian, kendati sempat ditodongkan pistol oleh pelaku.

Pemberian pengharagaan kepada Ramdhan dan Hermanto dilakukan langsung oleh Komandan Pusdikter Kol. Inf. Rochadi dalam apel pagi di Pusdikter, Jalan Gadobangkong, Kabupaten Bandung Barat, Rabu 23 Agustus 2017. Diharapkan, pemberian penghargaan tersebut dapat memotivasi para prajurit Pustikter agar selalu sigap dalam melindungi rakyat.

“Intinya, saya ingin memberikan apresiasi, sehingga keteladanan mereka dapat dicontoh oleh prajurit lainnya. Penghargaan itu buat memotivasi prajurit yang lain. Jadi anggota TNI tidak boleh apatis, karena kejahatan itu bisa terjadi di mana saja. Kalau kami peduli dan sigap, rakyat juga akan merasa aman,” kata Rochadi, seusai memberikan penghargaan.

Sebagai bagian dari TNI, dia menekankan, sudah menjadi kewajiban seluruh prajurit untuk melindungi rakyat. Dengan melihat situasi dan kondisi di lapangan, terkadang kewajiban itu perlu dijalankan dengan inisiatif dan spontanitas. “Yang penting, setiap ada kejadian atau tindakan, dilaporkan kepada atasan. Biar informasinya diketahui juga oleh pimpinan,” ujarnya.

Aksi Ramdhan dan Hermanto dalam melumpuhkan empat penyamun itu terjadi pada Minggu 20 Agustus 2017 siang, sekitar jam 13.15. Penangkapan begal itu direkam oleh seseorang dan diunggah ke media sosial, sehingga menjadi viral.

Ramdhan menceritakan, penangkapan keempat pelaku kejahatan itu bermula kedika dia sedang berjaga di Pusdikter. Dia mendengar sejumlah warga berteriak maling dan mengejar sebuah mobil berplat B. Mobil itu melaju kencang dari arah Cimareme menuju Cimahi, sehingga membahayakan para pengguna jalan yang lain. Ramdhan lantas berinisiatif ikut mengejar mobil itu, dengan mengajak Hermanto.

“Kami mengejarnya pakai motor. Orang-orang juga ikut mengejarnya. Pas di perbatasan Kota Cimahi dengan Kabupaten Bandung Barat, kami bisa mendekati mobil itu. Dari samping mobil, saya kemudian menyuruh mereka menepikan mobil. Namun, seorang pelaku membuka kaca mobil dan menodongkan senjata. Teman saya bilang, ‘Bang, kita bisa mati kalau begini.’ Akhirnya, saya mundur buat jaga jarak, tapi tetap mengikuti mobil itu,” kata Ramdhan.

Memasuki wilayah Cimahi, kondisi lalu lintas kebetulan sedang cukup padat. Mobil yang digunakan para penyamun itu akhirnya terdesak. Di pertigaan Jalan Amir Machmud-Jalan Sangkuriang, mobil itu menabrak pembatas jalan. Bahkan, mobil itu sebelumnya sempat menabrak motor yang ditumpangi pelajar. Setelah mobil terhenti, ternyata keempat pelaku di dalam mobil masih belum menyerah.

“Mereka masih berusaha kabur dan melawan warga yang mau menangkapnya. Saya kejar seorang pelaku, kena. Teman saya juga dapat seorang pelaku. Dua pelaku lainnya bisa bisa ditangkap karena sudah terkepung oleh warga. Setelah diamankan, keempat pelaku itu akhirnya kami bawa ke Polres Cimahi. Kami bawa pakai mobil bak yang dicegat di jalan,” kata Ramdhan, yang merupakan provost di Pusdikter.

Menurut Hermanto, massa yang emosi sempat menghakimi komplotan maling yang telah tertangkap. Meski begitu, tindakan main hakim itu bisa dicegah, sehingga para pelaku bisa terselamatkan. “Saya teriak-teriak biar mereka enggak dipukuli, karena kasihan juga sudah berdarah. Malah ada yang ingin pelaku ini dibakar segala. Habis diamankan, para pelaku ini kami serahkan ke kepolisian.

Sumber